| PROFIL SEKOLAH | |
| Nama | SMKN 1 Ciamis |
| NSS | 11 |
| Jenjang Pendidikan | SMK |
| Status Sekolah | Negeri |
| Akreditas | A |
| Alamat Sekolah | JL.Jenderal Sudirman No. 269 |
| Telepon | (0265)771204 |
| Fax | (0265)771204 |
| Website | |
| Nama Kepala Sekolah | Drs.H.Dasri Priatna.S. |
| Nama Kontak Person | |
malinda inceu
[/gigya width="200" height="200" src=http://flash-clocks.com/free-flash-clocks-blog-topics/free-flash-clock-169.swf width=200 height=200 wmode=transparent type=application/x-shockwave-flash" quality="autohigh" loop="true" wmode="transparent" menu="false" allowScriptAccess="sameDomain"]
Selasa, 28 Mei 2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Kebutuhan akan
bimbingan sangat dipengaruhi oleh faktor: filosofis, psikologis, sosial budaya,
ilmu pengetahuan dan teknologi, demokratisasi dalam pendidikan, dan perluasaan
program pendidikan. Latar belakang folosofis berkaitan dengan pandangan tentang
hakekat tetang manusia. Salah satu filsafat yang berpengaruh besar terhadap
timbulnya semangat memberikan bimbingan adalah filsafat humanisme. Aliran ini
berpandangan bahwa manusia memiliki potensi untuk dapat dikembangankan
seoptimal mungkin, termasuk anak berkebutuhan khusus yang belajar bersama di
kelas reguler.
Bahwa
dalam pelaksanaan pendidikan inklusif perlu keseriusan guru bimbingan dan atau
guru pembimbing khusus dan pihak lain yang terlibat didalamnya
untuk mengatasi permasalahan yang
dihadapi anak berkebutuhan khusus dalam berbagai aspek disekolah yaitu latar
belakang psikologis berkaitan erat dengan proses perkembangan manusia yang
sifatnya unik, berbeda dari individu lain dalam perkembangannya.
Implikasi dari keragaman ini ialah bahwa
individu memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dan mengembangkan
diri sesuai dengan keunikan dan potensi masing-masing tanpa menimbulkan konflik
dengan lingkungannya. Dari sisi keunikan dan keragaman individu bimbingan
diperlukan untuk membantu setiap individu mencapai perkembangan yang sehat
didalam lingkungannya. Kehidupan sosial budaya suatu masyarakat adalah sistem
terbuka yang selalu berinteraksi dengan sistem lain. Diharapkan anak
berkebutuhan khusus dapat berinteraksi aktif dengan lingkungannya.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah yang di bahas yaitu sebagai berikut :
1. Apa
saja model-model layanan ABK ?
2. Siapa
saja tenaga kependidikan dalam layanan ABK ?
C.
Tujuan
Adapun
tujuan dari pembahasan ini yaitu sebagai berikut :
1. Dapat
mengetahui apa saja model layanan ABK
2. Dapat
mengetahui siapa saja tenaga kependidikan dalam layanan ABK
BAB II
PEMBAHASAN
A. Model Layanan ABK
ABK memiliki tingkat kekhususan yang sangat beragam,
baik dari segi jenis, sifat, kondisi maupun kebutuhannya. Oleh karena itu,
layanan pendidikannya tidak dapat dibuat tunggal/seragam melainkan menyesuaikan
diri dengan tingkat keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak.
Ada beberapa model layanan pendidikan bagi ABK yaitu
:
1. Model
Segregasi
Model
segregasi merupakan model layanan pendidikan yang sudah lama dikenal dan
diterapkan pada anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Model ini mencoba
memberikan layanan pendidikan secara khusus dan terpisah dari kelompok jenis
anak normal maupun anak berkebutuhan khusus lainnya. Sebagai contoh : SLB/A,
lembaga pendidikan untuk anak tuna netra, SLB/B, lembaga pendidikan untuk anak
tuna daksa, dan SLB/E lembaga pendidikan untuk anak tuna laras, sekolah
autisme, sekolah anak ber IQ sedang, sekolah anak berbakat, dan sebagainya.
Kelebihan
model segregasi yaitu :
a. Anak
merasa senasib dan sepenanggungan sehingga dapat menghilangkan rasa minder,
rasa rendah diri, dan dapat menimbulkan rasa kebangkitan diri dalam menyongsong
kehidupan di hari-hari mendatang.
b. Anak
lebih mudah beradaptasi dengan teman-temannya yang lain yang sama-sama
mengalami/menyandang ketunaan.
c. Anak
dapat termotivasi dan bersaing secara sehat dengan sesama temannya yang senasib
di sekolahnya, sehingga anak lebih mudah bersosialisasi dengan teman-temannya
tanpa di bayang-bayangi rasa takut bergaul, minder, dan rasa kurang percaya
diri.
Kekurangan
model segregasi yaitu :
a. Anak
terpisah dari lingkungan anak-anak normal lainnya sehingga anak sulit bergaul
dan menjalin komunikasi dengan mereka yang normal.
b. Anak
merasa terpasung dan di batasi pergaulannya hanya untuk anak-anak yang cacat
saja sehingga pada gilirannya dapat menghambat perkembangan sosialisasinya
secara luas di masyarakat.
c. Anak
merasakan adanya ketidakadilan dalam kehidupan mereka di sekolah yang hanya
terbatas bagi mereka yang tergolong berkelainan.
2. Model
Kelas Khusus
Keberadaan
kelas khusus tidak bersifat permanen, melainkan didasarkan pada ada/tidaknya
anak-anak yang memerlukan pendidikan/pembelajaran khusus di sekolah tersebut.
Pada kelas khusus biasanya terdapat beberapa siswa yang memiliki derajat
kekhususan yang relatif sama. Untuk menanganinya digunakan pembelajaran
individual (individualized instruction) karena masing-masing anak memiliki
kekhususan. Tujuan pembentukan kelas khusus adalah untuk membantu anak-anak
agar tidak terjadi tinggal kelas/drop out atau untuk menemukan gejala
keluarbiasaan secara dini pada anak-anak SD. Dalam praktiknya kelas khusus
bersifat fleksibel, ada kelas khusus sepanjang hari dan kelas khusus untuk
bidang studi tertentu.
Dalam
kelas khusus sepanjang hari anak ABK di didik oleh guru khusus di ruangan yang
khusus pula. Kelas khusus ini hampir mirip dengan sekolah segregasi, hanya saja
lokasinya yang berada dalam satu naungan sekolah induk/regular.
Dalam
kelas khusus untuk bidang studi tertentu anak-anak ABK belajar bidang studi
yang tidak dapat mereka ikuti di kelas regular. Di kelas khusus ini biasanya
anak-anak mendapat mata pelajaran yang bersifat akademik seperti membaca,
menulis, dan berhitung atau aspek-aspek lain yang sesuai dengan kekhususannya.
Kelebihan
model kelas khusus yaitu :
a. Anak
lebih mendapatkan perlakuan dan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan
karakteristik dan kebutuhannya karena anak dikelompokan relatif homogen.
b. Potensi
anak dapat lebih cepat berkembang karena pembelajarannya menggunakan pendekatan
individual atau kelompok kecil.
c. Dari
segi sosial anak lebih mudah mengembangkan diri karena berada dalam lingkungan
yang normal.
Kelemahan
model kelas khusus yaitu :
a. Anak-anak
ABK kadang-kadang masih mendapatkan stigma negatif dari sebagian teman-temannya
yang lain sehingga dapat menggangu/menghambat perkembangan belajarnya.
b. Anak-anak
ABK dalam bersosialisasi kadang-kadang masih canggung untuk bergaul dengan mereka
yang bukan kategori ABK.
c. Sebahagian
orangtua kadang-kadang tidak terima bila anaknya dicap sebagai ABK apalagi
kalau dikelompokan dengan sesama ABK dalam kelas khusus tertentu.
3. Model
Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)
SDLB
keberadaannya hampir mirip dengan SLB, akan tetapi SDLB sesuai dengan instruksi
presiden (inpres) No. 4/1982 adalah sekolah yang diperuntukkan dan untuk
menampung anak-anak berkebutuhan khusus usia sekolah dasar dari berbagai jenis
dan tingkat kekhususan yang dialaminya. Oleh karena itu, dalam SDLB ada ABK
kategori tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, dan sebagainya. Sesuai dengan
inpres SD No. 7/1983, SDLB pada hakikatnya adalah SD negeri inpres biasa tetapi
khusus diperuntukkan bagi ank-anak usia wajib belajar yang memerlukan pendidikan
khusus.
Kelebihan
model sekolah dasar luar biasa yaitu :
a. Anak
merasa bahwa mereka berada dalam dunia yang lebih luas, tidak hanya terbatas
pada jenis kelainan tertentu saja.
b. Dari
segi perkembangan sosial, anak lebih leluasa mengadakan interaksi dan komunikasi
dengan sesama temannya yang sangat bervariasi jenis ketunaannya.
c. Dari
segi psikologis, anak dapat lebih mudah meningkatkan rasa percaya diri,
menebalkan semangat, dan motivasi berprestasi yang tinggi karena mereka
sama-sama senasib dan sepenanggungan.
Kelemahan
model sekolah dasar luar biasa yaitu :
a. Anak
masih merasakan bahwa mereka hidup dalam lingkungan yang terpisah dari
anak-anak yang normal padahal mereka sebenarnya hidup dalam lingkungan yang
normal yang akibatnya anak merasa disisihkan dari dunia yang normal.
b. Anak
masih merasakan terbatasnya dalam mengembangkan interaksi dan komunikasi dengan
mereka yang berkategori normal,karena anak-anak dikelompokkan berdasarkan jenis
keturunan tertentu, sehingga kadang-kadang timbul sikap permusuhan diantara
kelompok mereka.
4. Model
guru kunjang
Model
guru kunjung dapat diterapkan untuk melayani pendidikan bagi ABK terutama
mereka yang ada atau bermukim di daerah terpencil, daerah perairan, daerah
kepulauan atau tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh layanan pendidikan
khusus yang telah ada, misalnya SLB, SDLB, kelas khusus, dan sebagainya.
Program pendidikan yang ditawarkan meliputi pembelajaran dengan materi yang
bersifat praktis dan pragmatis, seperti keterampilan kehidupan sehari-hari,
membaca, menulis, dan menghitung sederhana. Kelompok-kelompok belajar tersebut
dapat dikatakan sebagai kelas jauh yang menginduk kepada SLB, SDLB, SD umum
yang terdekat. Guru kunjung tersebut biasanya diambil dari guru khusus yang
mengajar di sekolah induknya atas penunjukan dari dinas pendidikan setempat.
Kelebihan
model guru kunjung yaitu :
a. Anak
dapat lebih mudah mendapat layanan pendidikan dengan tidak perlu datang ke
suatu tempat yang jauh dari tempat tinggalnya, karena sudah ada petugas khusus
yang mendatanginya.
b. Anak-anak
bisa saling berkomunikasi dengan sesama mereka yang berkategori ABK dari daerah
yang lain yang saling berjauhan sehingga dapat memicu semangat dalam belajar.
c. Anak-anak
dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis dan pragmatis yang
mereka butuhkan sehari-hari.
Kelemahan
model guru kunjung yaitu :
a. Layanan
pendidikan berupa sistem guru kunjung dalam banyak hal masih sulit diterapkan
karena memerlukan jaringan kerjasama antar berbagai pihak yang tidak begitu
mudah.
b. Anak-anak
ABK di daerah terpencil, pedalaman, maupun di tempat-tempat terasing lain
keberadaannya tersebar dan terpencar-pencar sehingga menyulitkan dalam
mengadakan koordinasi untuk pelaksanaan pembelajaran.
c. Para
orangtua anak ABK di daerah terpencil pada umumnya masih rendah keadarannya
untuk menyekolahkan anaknya untuk belajar di sanggar-sanggar belajar.
d. Masalah
transportasi merupakan persoalan klasik yang menjadi kendala sebagian orangtua
untuk mengirimkan anaknya belajar di sanggar-sanggar.
5. Sekolah
Terpadu
Sekolah
terpadu pada hakikatnya merupakan sekolah normal biasa yang telah ditetapkan
untuk menerima anak-anak yang berkebutuhan khusus. Mereka belajar bersama-sama
dengan anak-anak normal lainnya tanpa dipisah oleh dinding tembok kelas. Dalam
pelaksanaannya pendidikan terpadu dapat berlangsung secara terpadu
penuh/sepanjang hari pelajaran dan dapat pula secara terpadu sebagian/khusus
bidang studi tertentu. Pada tipe sekolah terpadu penuh, anak-anak ABK belajar
bersama-sama dengan mereka yang bukan ABK dengan mengikuti semua pelajaran
tanpa terkecuali.
Kelebihan
sekolah terpadu yaitu ;
a. Anak
merasa dihargai harkat dan martabatnya sebagai manusia pada umumnya sehingga
mereka bisa belajar bersama-sama dengan anak normal tanpa dibatsi oleh dinding
tembok pemisah yang tegas.
b. Dari
segi perkembangan sosial, anak lebih mudah berinteraksi dan berkomunikasi
secara luas dengan mereka yang normal dengan sekolah tersebut.
c. Dari
segi psikologis, anak merasa percaya diri dapat menimbulkan semangat/motivasi
untuk bersaing secara sehat dengan mereka yang berkategori normal.
Kelemahan
sekolah terpadu yaitu ;
a. Anak
kadang-kadang merasa rendah diri dihadapan mereka yang normal sehingga
akibatnya dapat meruntuhkan semangat dalam belajar di kelas/sekolah.
b. Dalam
kondisi tertentu, anak kadang-kadang menjadi bahan olok-olokan yang negatif
dari teman-temannya yang normal sehingga kondisi kejiwaan anak ABK menjadi
tertekan dan akibat selanjutnya dapat menurunkan motivasi belajarnya yang
sebelumnya telah terbangun dengan baik.
c. Kadang-kadang
ketersediaan guru GPK (Guru Pendamping Khusus) bagi anak ABK di sekolah
tersebut tidak selalu tersedia.
6. Pendidikan
Inklusi (Inclusive Education)
Kata
inklusi bermakna terbuka, lawan dari ekslusi yang bermakna tertutup. Pendidikan
inklusi berarti pendidikan yang bersifat terbuka bagi siapa saja yang mau masuk
sekolah baik dari kalangan anak normal maupun anak berkebutuhan khusus.
Pelaksanaan
pendidikan inklusi di latarbelakangi oleh filsafat mainstraming yang menyatakan
bahwa dunia yang normal harus berisi manusia normal dan yang tidak normal.
Demikian pula komunitas sekolah yang normal harus ada kebersamaan antara anak
normal dan anak yang tidak normal, baik pada saat menerima pelajaran dalam
kelas maupun pada saat bersosialisasi di luar kelas.
Kelebihan
pendidikan inklusi yaitu :
a. Anak
akan memperoleh keadilan layanan pendidikan yang tidak dibedakan dari anak-anak
normal lainnya sehingga secara tidak langsung dapat membangkitkan motivasi dan
gairah belajar di sekolah.
b. Anak
merasakan adanya perlakuan dan persamaan hak, harkat dan martabat dalam
memperoleh layanan pendidikan tanpa membedakan antara yang cacat dan yang tidak
normal.
c. Anak
dapat bergaul dan berinteraksi secara sehat dengan teman-temannya yang bukan
kategori ABK, sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi
berprestasi dalam belajar di sekolah.
Kelemahan
pendidikan inklusi yaitu :
a. Dalam
berinteraksi sosial, dalam kondisi tertentu kadang-kadang anak masih
mendapatkan cemoohan atau ejekan yang negatif dari sebagian teman-temannya yang
normal yang dapat berakibat menurunnya semangat anak dalam belajar dan
berkompetisi di kelas.
b. Untuk
dapat disebut sebagai sekolah inklusi yang sebenarnya dibutuhkan sarana dan
prasarana yang dapat mengakses kebutuhan individual anak yang tidak gampang
dipenuhi oleh sekolah yang telah menyatakan diri sebagai sekolah inklusi.
B.
Tenaga
Kependidikan Dalam Layanan ABK
1.
Tenaga Guru
Guru
yang bertugas pada pendidikan ABK harus memiliki kualifikasi dan kemampuan yang
dipersyaratkan. Tenaga guru tersebut meliputi guru khusus, guru pembimbing
(konselor pendidikan), guru umum yang telah memiliki pengalaman luas dalam
mendidik dan menangani maslah-masalah pendidikan anak di sekolah.
2.
Tenaga Ahli
Tenaga
ahli dalam pendidikan ABK sangat diperlukan keberadaannya untuk ikut membantu
pemecahan permasalahan anak dalam bidang non akademik. Tenaga ahli itu meliputi
dokter umum, dokter spesialis, psikolog, social worker, maupun tenaga ahli
lainnya yang diperlukan.
3.
Tenaga Administrasi
Untuk
kelancaran proses belajar mengajar perlu dukungan tenaga administrasi sekolah.
Sebagai tenaga non akademik keberadaannya sangat diperlukan untuk kelancaran
tugas-tugas sekolah secara umum, misalnya keuangan, surat menyurat, pendataan
murid/guru, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tujuan
pelayanan pendidikan ABK yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik supaya
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq
mulia, sehat, berilmu, cakap, kretif, mandiri, dan menjadi warga negara
demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas No. 20/2003)
Model
layanan pendidikan bagi anak-anak ABK yaitu model segregasi, model kelas
khusus, model sekolah dasar luar biasa (SDLB), model guru kunjung, sekolah
terpadu, dan pendidikan inklusi (inclusive education). Sedangkan tenaga
kependidikan dalam layanan ABK yaitu meliputi tenaga guru, tenaga ahli, dan
tenaga administrasi.
| Sejarah IAID |
|
|
|
Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi
Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan
kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi
Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya
pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon
sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan,
kebangsaan dan kemasyarakatan. Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan. Pada awal berdirinya, IAID hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah. Kemudian melalui usaha keras, saat ini telah ada tiga fakultas dan satu program, yaitu Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), Fakultas Dakwah (Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam), dan Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam. Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah pernah didirikan, tetapi kemudian diubah menjadi Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sesuai dengan tuntutan dan perkembangan yang ada. Program Diploma PGSD/PGMI juga pernah ada tetapi kemudian ditingkatkan statusnya dari Program Diploma menjadi Program Strata Satu. Secara kronologis, sejarah perkembangan IAID dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi, yaitu:
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Langganan:
Postingan (Atom)

